Text
Gunung Bromo dan Pegunungan Tengger
Orang Tengger bertempat tinggal di kira-kira 30 desa di lereng-lereng Pegunungan Tengger. Setelah berabad-abad dipengaruhi oleh agama Hindu-Budha mereka sekarang dikelilingi oleh orang-orang Islam dan hidup rukun bersama-sama mereka. Walaupun demikian, saat ini masih saja mereka mempunyai suatu kepercayaan, yang mengingatkan pada animisme di Pulau Jawa dari zaman kuno.
Di antara dukun-dukun (pemimpin agama) ada suatu cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, yang mengisahkan bahwa Nyai Gede Dadap Putih, juga bernama Nyai Anteng, dan Kyai Gede Dadap Putih, juga bernama Kyai Seger adalah yang menurunkan orang Tengger. Dari suku kata terakhir dari Anteng dan Seger terjadi nama Tengger.
Suatu prasasti pada sebuah lempengan tembaga, yang diketemukan di dekat Wonokitri (Tengger Pasuruan) bertahun 1327 Çaka (atau 1405 tahun Masehi), memuat suatu perintah untuk membebaskan desa-desa Walandit, Mamanggis, Lili, Jebing, dan Kacaba dari "titileman" (suatu macam pajak), oleh karena penduduk desa-desa itu hamba dewa-dewa dari Gunung Bromo yang suci.
Tidak tersedia versi lain