Text
Demikianlah Pada Mulanya
KAMPUNGKU, di sebuah kota kecil sunyi, jauh terpencil di utara. Ya, kotaku kecil dan sunyi, tempat aku dilahirkan. Dan kian bisa kubayangkan kesunyian ini bila kuterima surat kawanku dari kampung, bahwa bila dia duduk-duduk di pagar jembatan dari pukul tujuh pagi hingga pukul sebelas, orang-orang yang lalu di situ dapat dihitungnya dengan jari tangan.
Dan, ah, surat begitu membuat aku terkenang akan kampungku. Kampungku yang sedemikian lama sudah kutinggalkan.
Ketika itu aku masih kecil. Masih kanak-kanak. Bila hari sore dan malam baik, kami selalu duduk-duduk dan bermain-main di jembatan kampungku, gertak menurut istilah di sana.
O ya, sepanjang kampungku membujur sebuah jembatan dari timur ke barat yang bersambung pula dengan kampung-kampung yang lain. Sebuah lorong kecil selebar dua meter dari utara, dari sebuah jalan yang agak lebar yang melingkari kota, membelah dua kampungku hingga pada pertengahan jembatan, yang disambut pula oleh stasiun penyeberangan.
Tidak tersedia versi lain