Text
Sembilan Mimpi Sebelum Masehi
Selama lima tahun ini, saya hidup di kota Kairo. Orang desa yang terbiasa dengan kelambanan ini, harus mengais sisa-sisa diri sendiri yang setiap hari mampat di gorong-gorong gelap kota ini. Lalu saya pun bertanya: Di manakah letak puisi di tengah pusaran kalkulasi? Apakah puisi masih berguna? Kalau iya, lantas untuk apa? Untuk hiburan dari penatnya menjalani rutinitas harian? Di tengah kota, tanah yang tanpa penduduk justru karena penuh sesak diduduki orang, puisi bisa saja bunuh diri seperti kebanyakan orang depresi. Tetapi paisi adalah kesunyian masing-masing barangkali seperti nasib. Lantas kenapa Jika puisi adalah kesunyian? Di kota, bukan tidak mungkin ada kesunyian. Kesunyian itu masih ada, tapi orang tak pernah merasakan kelambanan. Dan puisi, dengan lapisan maknanya, tak mungkin terhayati tanpa kelambanan.
Tidak tersedia versi lain